Header Ads Widget

Perkembangan "Al-Furqan" dari Masa ke Masa (1987-2022)

 


Kata “Al-Furqan” yang melekat dalam Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Furqan, yang juga merupakan salah satu  nama dari pedoman utama umat Islam, yaitu al-Qur’an al-Karim. Al-Furqan secara bahasa berarti “pembeda”, pembeda antara yang haq (benar) dan yang bathil (salah), pembeda antara jalan kebahagian dan jalan kesensaraan, petunjuk kepada jalan yang benar (al-Islam). Jadi jika ingin mendapatkan kebenaran, kebahagian dunia-akhirat; maka pilihlah “Al-Furqan” sebagai pilihan dan pedoman utamanya. Makna inilah yang  menjadi spirit prinsip utama bagi pendirinya untuk memberikan nama Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) “Al-Furqan” Makassar. 

Secara historis rihlah "Al-Furqan" sebagai perguruan tinggi Islam melalui fase yang cukup panjang, berdasarkan akta notaris nomor 152  Tahun 1987 yang ditandatangani di depan notaris Sitske Limowa, S.H., didirikanlah sebuah yayasan yang bernama Yayasan Pendidikan Ilmu Al-Qur’an yang berpusat di Makassar yang menaungi STAI Al-Furqan Makassar. Yayasan ini berdasarkan akta notaris tersebut didiriikan atau lahir dari pergumulan secara kolaboratif pemikiran para tokoh besar yang berbagai unsur di Sulawesi Selatan pada saat itu, yaitu: H. Alim Bachri (Ketua DPD Golkar Sulawesi Selatan), Drs. H. Abd Rahman K. (Ka.Kanwil Kemenag Sulawesi-Selatan), Dra. Hj. Rasdianah (Rektor IAIN Alauddin), Drs. H. Hamzah Yaqub (pegawai Pemprov. Sulawesi-Selatan), dr. Hj. Aisyah Rajeng Pananrang, Drs. H. Umar Syihab (Alim Ulama), Drs. H. Muhammad Yusuf Kallah (Pengusaha), Drs. Andi Amin Rauf, dan Drs. H. Mukhtar Husain. Ide pertama berdirinya yayasan tersebut adalah untuk merespon kurangnya Qari’-Qariah dan Hafidz-Hafidzah di Sulawesi-Selatan, maka didirikanlah suatu lembaga yang khusus mengelolah pendidikan Ilmu al-Qur’an (Qiraah dan  Tahfidz al-Qur’an).; sebagai respon terhadap keterbelakangan Sulawesi-Selatan setiap diadakan lomba MTQ TK. Nasional pada saat itu. 

Selanjutnya, Ibu  Hj. Rasdiana selaku Rektor IAIN Alauddin Makassar pada saat itu memberikan saran agar para peserta tersebut perlu mendapatkan ijazah, maka diformalkanlah lembaga tersebut  menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ). Pada tahun 1988 dibukalah satu jurusan, yakni jurusan Syariah program studi Akhwalul Syakhsiyah, dengan adanya satu jurusan ini, maka berubahlah nama dari Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ) menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS).  Kemudian pada tahun 1996, berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Furqan Makassar sampai sekarang ini, dan  telah membuka beberapa program studi:  

  1. Prodi Akhwal al-Syakhsiyah (AS). 

  2. Prodi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI). 

  3. Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI). 

  4. Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). 

  5. Program Pascasarjana Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI)


Pada tahun 2018 sampai sekarang sedang berjalan proses pengusulan prodi baru (Ekonomi Syariah, PAUD, dan S2 Hukum Keluarga Islam(HKI) dan pengusulan alih status dari STAI menjadi IAI Al-Furqan Makassar. Kemudian pada tahun 2021, berdasarkan surat keputusan menteri agama RI. nomor 85 tahun 2021 tentang izin penyelenggaraan program studi Pendidikan Agama Islam untuk program magister (S2), maka berdasarkan izin operasional tersebut merupakan landasan yuridis pihak pengelola membuka pendaftaran mahasiswa baru angkatan pertama pada periode 2021/2022. 

Selama 34 tahun berdirinya (1987-2020) STAI Al-Furqan Makassar telah dinahkodai oleh delapan ketua, yaitu; 

  1. Drs H. Hamzah Yaqub ( 1987- 1992), 

  2. Dr. H. Hamka Haq, MA. ( 1992-1997), 

  3. Dr. H. Qasim Mathar, MA. (1997-2002), 

  4. Dr. H. Harifuddin Cawidu, MA., (2002-2005), 

  5. Drs. H. Muh Sahrul, M. Ag. (2005-2010 )

  6. Dr. H. Zainuddin Hamka, M. Ag. ( 2010-2013)

  7. Dr. Muh Hasbi, M. Ag. ( 2013-2015)

  8. St. Habibah, S. Ag., M. Hum., MA. (2015-2019) dan (Periode ke-2; 2021-2025)

Delapan pimpinan tersebut merupakan putra terbaik Sulawesi Selatan yang pernah memimpin STAI Al-Furqan Makassar pada bidang keahlian dan pada masanya. H. Hamzah Yaqub yang penuh ketawaddhuan dan kesabaran memimpin awal berdirinya kampus STAI Al-Furqan Makassar. Orangnya sabar, retorikanya tersusun dengan baik dan penuh dengan ketegasan. H. Hamka Haq seorang dosen, cendikiawan, sekaligus sebagai politisi  yang disegani di lingkungan IAIN Alauddin dan Sulawesi Selatan pada umunya. Beliau sekarang sudah menjadi guru besar di bidang Aqidah dan Filsafat (Prof.) yang diraihnya beberapa tahun yang lalu, dan sedang menjadi anggota DPR RI (Priode 2014-2019)  dari praksi PDI Perjuangan serta,  menjadi pelopor berdirinya Baitul Muslimin di bawah naungan PDI Perjuangan. 

H. Qasim Mathar, seorang ilmuan yang tampil dengan sederhana dan bersahaja, sering mengeluarkan pemikiran yang kontraversial di kalangan umat Islam, khususnya di Sulawesi Selatan. Beliau sekarang sudah menyandang Guru Besar (Prof.) di bidang pemikiran Islam. H. Harifuddin Cawidu, seorang tokoh cendikiawan yang diakui keilmuannya di lingkungan IAIN Alauddin ketika itu, tapi sayang Tuhan menakdirkannya lebih cepat kembali keharibaan-Nya  meninggalkan dunia yang fana ini ketika beliau masih menjabat Ketua STAI Al-Furqan Makassar,  setelah operasi  kanker otak. 

Kepemimpinan selanjutnya adalah H. Muh Sahrul, bisa dikatakan sebagai muballigh yang multi talenta dengan menguasai beberapa bidang di antaranya; tilawah, menyanyi dan qasidah, tentunya juga memiliki retorika yang bagus jika ceramah, serta memiliki kelincahan dalam mengurus dan dikenal sebagai  tukang diplomasi ulung. Selama kepemimpinan beliau selama lima tahun terjadi banyak permasalahan dalam pengelolaan kampus, mulai tidak reakreditasinya institusi, sehingga banyak mahasiswa yang pindah ke kampus yang lain, serta permasalahan lainnya. Namun, sebelum pensiun setelah tidak menjabat lagi sebagai Ketua beliau dipanggil yang Maha Kuasa untuk menghadap-Nya setelah lama menderita penyakit diabetes. 

Setelah H. Muh Sahrul menjabat sebagai ketua, kepemimpinan STAI Al-Furqan selanjutnya adalah H. Zainuddin Hamka adalah dosen DPK yang mendapat beasiswa S3 dari Kemenag RI atas rekomendasi kampus STAI Al-Furqan Makassar. Kepemimpinan beliau tidak berjalan lama, karena kurangnya  mahasiswa pada saat itu beliau mengundurkan diri dan pindah hombes ke Universitas Indonesia Timur (UIT). Mengingat kekosongan pimpinan (ketua), maka rapatlah beberapa dosen senior untuk menentukan ketua selanjutnya. Dengan berbagai lika-likunya dan saling melimpahkan antara satu dengan yang lainnya,  akhirnya jatuh kepada Dr. Muh Hasbi, M. Ag. Adalah salah seorang dosen STAIN Bone. Pada kepemimpinan beliaulah STAI Al-Furqan mulai dibenahi pengelolaanya, mulai pengeloaan staf, adminitrasi, keuangan, dan sarana prasarana, termasuk peninggalan beliau adalah pagar tembok di depan kampus. Pada masa ini juga mahasiswa mulai bertambah, gairah perkuliahan mulai bergeliat dan aktivitas kampus lainnya. Namun, beliau tidak cukup satu periode untuk memipin  karena terganjal oleh aturan bahwa dosen PNS tidak boleh menjabat di tempat yang lain, kecuali di hombesnya sendiri. 

Terjadinya kekosongan kepemimpinan, setelah Dr. Muh Hasbi, M. Ag., mengundurkan diri, maka kepemimpinan selanjutnya adalah jatuh kepada Ibu St. Habibah, S. Ag., M. Hum. MA., adalah salah seorang putri Bima yang dipersunting oleh Dr Abdul Rahim, M. Si.. Sejak kepemimpinan belian (2015) sampai sekarang yang telah memasuki periode ke-2 pengelolaan kampus telah banyak mengalami perkembangan mulai jumlah mahasiswa semakin tahun semakin bertambah, reakreditasi kampus, dari empat prodi yang ada (PAI, Ahwalul al-Syakhsiyah, BPI, dan PGMI) telah tiga prodi yang memiliki nilai akreditasi baik (B), yakni prodi PAI, Ahwalul Syakhsiyah, dan PGMI, sedang prodi BPI setelah  reakreditasi mendapatkan nilai baik. Di samping perkembangan tersebut, juga terjadi perkembangan di bidang sarana dan prasarana, yakni gedung perkuliahan, perkantoran dan perbaikan gedung aspuri dan aspura.

Kemudian perkembangan selanjutnya yang perlu disyukuri adalah telah terbitnya pembaruan Akta pendirian yayasan yang menaungi STAI Al-Furqan Makassar setelah melalui perjuangan yang cukup menguras pemikiran dan tenaga, serta bantuan berbagai pihak terutama Kopertais Wilayah VIII (Sulawesi, Maluku dan Papua). Yayasan yang dimaksud adalah Yayasan Pendidikan Ilmu Alquran (YPIQ) Makassar berdasarkan nomor akta 05 Tahun 2021 yang ditandatangani pada tanggal 19 Agustus 2021 di depan notaris Nurjannah Hamid, SH. Berdasar akta notaris tersebut telah terbit SK Menkumham AHU-0020336.AH.01.04. Tahun 2021; dan terbitnya OSS berdasar Izin Pemerintah Republik Indonesia tentang Perizinan Berusaha Berbasis Resiko Nomor Induk Berusaha: 0309210011809.  Jadi, berdasar dokumen-dokumen tersebut merupakan landasan yuridis (payung hukum) untuk mengembangkan STAI Al-Furqan Makassar. 

Kemudian plan selanjunya adalah pengembangan lokasi kampus yang rencananya akan dibangun daerah Maros Moncongloe (tim pengembangan lokasi dan pembangunan kampus telah terbentuk Selasa, 7 Juni 2022), di mana diketahui bahwa lokasi kampus sekarang ini (eks asrama haji yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 15 Daya, Biringkanaiyah kota Makassar) merupakan pemberian pemprov  Sulawesi-Selatan yang bersifat pemanfaatan (hak pakai) berdasar surat gubernur A. Amuriddin nomor: 456/631/mensprit yang ditandatangani pada 4 Maret 1987. Surat ini merupakan jawaban dari surat permohonan Kepala Kantor Depatemen Agama Propinsi Sulawesi-Selatan Nomor:wt/1-a/KS.01/234/1987 tentang pemanfaatan Asrama Haji Lama. Dalam surat gubernur tersebut dijelaskan bahwa dalam pemanfaatan eks asrama haji (lama) disetujui ada 3 (tiga) lembaga, yaitu; (1) Balai Diklat Pegawai Teknis Keagamaan Ujung Pandang, (2) Filial M.Ts.N Ujung Pandang di Kecamatan Biringkanaya, (3) Pendidikan Ilmu Al-Qur’an (Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an). Inilah yang menjadi landasan STAI Al-Furqan Makassar, yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an (STIQ, 1987) berkedudukan di eks asrama haji (lama). 

Demikianlah sejarah panjang perkembangan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Furqan, apa yang ada sekarang masih jauh dari impian idealnya suatu institusi perguruan tinggi, maka untuk itu diperlukan suatu perjungan oleh seluruh stakehoulders yang memiliki i’tikad baik, hati yang ikhlas, usaha yang maksimal, serta tawakkal dan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar cita-cita dapat diraih, sebagaimana yang termaktub dalam penggalan bait terakhir Mars STAI Al-Furqan “Majulah…, Bangkitlah…, Jayalah Selama-lamanya…” Aamin yaa Rabbal Aa-lamin

Wassalam. 

                          Makassar, 10 Juni 2022

                                         Penulis

Waka I STAI Al-Furqan Makassar

                                                                                    Muhammad Tang. 



Posting Komentar

0 Komentar