Header Ads Widget

Abstraksi Kehidupan: Pusingi Seperlunya, Nikmati Sebanyak-banyaknya (Oleh Dr. Ismail, MA)

 

Saya "lahir" di Al-Furqan 8 Agustus 2002; tentu saya begitu mafhum dan garam akan rihlah historis Al-Furqan: merasakan getaran malam dari sayup dan lafdz Qur'an mengumandang di asrama mahasiswa putra dan putri. 21 tahun lamanya sejak hari itu "kugugurkan diri" dan memantaskannya menjadi wisudawan.

Namun, di lubuk kealumnian ini, tersisa sebua "luka": simbol un-partisan atau "kekalahan-kekalahan" di Al-Furqan yang masih terjadi, perguruan tinggi Islam yang bercirikan Al-Qur'an terus saja ada "oknum" yang ingin menduduki dan membagi-bagi bagai rumus konstanta yang begitu rumit penyelesaiannya.

2004-2006. Pembagian dan kedudukan tersebut dicoba teruntuhkan oleh gerakan adik-adik mahasiswa junior saya, yang belakangan masanya dipertegas dengan istilah "La yamuutu walaa Yahya". Bertahun-tahun Al-Furqan dihiasi dinding yang begitu megah namun sepi, pohon-pohon mangga semakin menjulang diisi oleh hantu-hantu yang berpesta dengan suka ria. Adik-adik junior dipaksa terombang-ambing akan statusnya berpisah dengan ruang akademisnya.

Selama pemaksaan keheningan itu, hampir 8 tahun lamanya Al-Furqan adalah nama dan reuninya. Walau kita tahu ruang akademis bukan hanya administrasinya, tetapi juga konflik-konfliknya dan "kenakalan-kenakalan" yang ada didalamnya.

Baik lembaga ataupun individu kita sendiri, wajib saja ada abstraksinya. Dengan kata lain segala hal yang musti kita pungkiri bisa saja adalah pengesahan dari penafian kita sendiri. Sebagaimana kisah perdebatan antara ayam dan telur maupun telur dan ayam yang tak berkesudahan. Selalu saja ada abstraksi didalamnya.

Tentu saja analogi tersebut tak memadai, sebab pasca-pandemi manusia atau akademi khususnya, begitu "lembek" memaknai koherensi dari problematika yang ada, dan Al-Furqan adalah bagian salah satunya.

Abstraksi kehidupan sungguh begitu menakutkan, dalam arti ia bisa jadi prolog maupun yang lebih menyeramkan epilog dari pertarungan ekstensi manusia, serta keseriusan-keseriusan yang ada didalamnya. Paradoknya ialah ketika semuanya semakin membingunkan, abstraksi tersebut akan berakhir dengan sendirinya atau sekadar memahaminya dengan tidak mempedulikannya lagi.

Walhasil, yang sekarang terjadi mari kita defenisikan saja sebagai abstraksi pikiran saja. Pusingi seperlunya dan nikmati sebanyak-banyaknya. Berbahagialah.

~~~


Dr. Ismail, MA. (Wakil Ketua III STAI Al-Furqan Makassar)

Posting Komentar

0 Komentar